SEJARAH DESA SUMBERJAYA, KECAMATAN CIHAURBEUTI, KABUPATEN CIAMIS
Desa Sumberjaya merupakan sebuah Desa hasil pemekaran dari Desa Cihaurbeuti, yang terjadi pada tanggal 16 Februari 1979, dimana pada waktu itu Desa Cihaurbeuti dipimpin oleh Kepala Desa (Kuwu) Cholil Alamsjah. Pada saat sebelum pemekaran, Desa Cihaurbeuti berpenduduk sebanyak 10.682 orang; tersebar di 13 (tiga belas) Dusun, yaitu Dusun Desa Kaler, Dusun Desa Tengah, Dusun Desa Kidul, Dusun Baketrak, Dusun Jengkol Pandak, Dusun Selajambe, Dusun Buniasih Tonggoh, Dusun Buniasih Landeuh, Dusun Sompok, Dusun Cipeuceuk, Dusun Cigarunggang, Dusun Nanggela dan Dusun Antralina, dengan luas wilayah sekitar 870 Hektar.
Desa Sumberjaya pada awal mulai dibentuk memiliki luas wilayah Desa sekitar 420 Hektar, terdiri dari 6 (enam) Dusun, yakni Dusun Nanggela, Antralina, Cigarunggang, Cipeuceuk, Buniasih Landeuh dan Sompok, dengan jumlah penduduk sebanyak 5.449 orang, dan Cholil Alamsjah (Kepala Desa Cihaurbeuti saat itu; hasil Pilkades Cihaurbeuti tahun 1975); merupakan penduduk asli Dusun Nanggela, salah satu Dusun yang masuk wilayah Desa pemekaran; Sumberjaya, menjadi Kepala Desa Pertama di Desa Sumberjaya.
Dalam perkembangannya, melalui Keputusan Bupati Ciamis Nomor 141/Kpts.56-Huk/2010, tanggal 08 Februari 2010; Jumlah Dusun di Desa Sumberjaya bertambah menjadi 7 (tujuh) Dusun, dengan dimekarkannya Dusun Nanggela menjadi 2 (dua); yakni Dusun Nanggela Kaler dan Nanggela Kidul. Dan sebagai konsekwensi logis dari pemekaran dusun, dalam upaya pembenahan Lembaga Kemasyarakatan Desa setingkat RT/RW; sebagai mitra kerja Pemerintah Desa dalam urusan penyelenggaraan Pemerintahan Desa, telah terjadi pemekaran dari 31 RT menjadi 47 RT, dan dari 12 RW menjadi 22 RW, dengan konsep sesuai peraturan perundangan yang berlaku.
Secara etimologis, Sumberjaya berasal dari penggabungan 2 (dua) kata, yaitu Sumber dan Jaya. Kata Sumber identik dengan sumber kehidupan yaitu air, air sebagai sumber kehidupan, tiada makhluk yang dapat bertahan hidup tanpa terpenuhi kebutuhannya akan air. Konon kabarnya, dari sekian banyak sumber air mata air (Cinyusu) yang ada di wilayah Desa Sumberjaya, selalu mengering ketika musim kemarau tiba, kecuali 1 (satu) Cinyusu yang tidak pernah kering sepanjang tahun. Cinyusu tersebut berada di sebuah lembah yang diatasnya berdiri sebongkah bukit yang diyakini oleh masyarakat merupakan situs tua peninggalan leluhur (karuhun urang Sumberjaya) bernama Mbah Garuda Jaya, seorang digjaya nan gagah perkasa, yang meninggal dunia saat perlawanan Hindia Belanda di sekitar pertengahan abad ke 17 Masehi, dari nama leluhur tersebut maka diambil nama belakangnya, yakni kata Jaya.
Sumber lain menerangkan, bahwa nama adalah sebuah harapan, dengan hanya mengartikan secara sederhana kata Sumberjaya,orang dapat memberi arti dan memaknainya, termasuk memaklumi harapan – harapan yang terkandung pada nama Desa Sumberjaya.
Demikian para sesepuh Desa pada saat itu menamai Desa hasil Pemekaran Cihaurbeuti di Tahun 1979 dengan nama Desa Sumberjaya, dengan harapan akan menjadi sebuah Desa yang religius, berkekuatan dalam kemandirian untuk kelangsungan (survive) serta kemajuan Desa Sumberjaya dalam segala bidang kehidupan dimasa datang.
Sumber-sumber pendapatan Desa Sumberjaya, diantaranya adalah Bengkok (tanah carik) hasil dari tanah titisara desa, hasil usaha desa, bantuan Pemerintah Pusat, Provinsi dan Kabupaten serta bantuan lain yang tidak mengikat.
Adapun silsilah Kepemimpinan Desa Sumberjaya adalah sebagai berikut :
1. Cholil Alamsjah ( 1979-2002)
2. H. E. Kusnadi (2002-2008)
3. Endang Kosim (2008-2014)
4. Iwan Haris Gunawan (2014 s/d sekarang)
Kebudayaan Masyarakat Desa Sumberjaya yang ada sejak zaman dulu diantaranya ; Tradisi Ngaruat Lembur, Tradisi Ziarah, Tradisi Hajat empat dan tujuh bulah, Tradisi Numbal Bumu, Tradisi Nyarang dan lain sebagainya.
Cagar Budaya yang ada diantaranya yaitu Makam Eyang Dalem Garuda Jaya; yang konon berada di tiga titik tersebar di Dusun Nanggela Kaler dan Dusun Cigarunggang, Makam Eyang Ras-Ratukusumah dan Makam Eyang Rangga Gading di Dusun Cigarunggang, Makam Eyang Salem di Dusun Cipeuceuk, Makam Satria Kembar di Dusun Buniasih Landeuh, serta makam tokoh masyarakat Sumberjaya lainnya.
Yang menjadi ciri khas Desa Sumberjaya adalah potensialnya penduduk dalam berkarya terutama dibidang home industry kerajinan anyaman pandan dan bambu, dengan hasil produksinya berupa tikar, tas, bilik, dan lain sebagainya. Juga terdapat sebuah danau seluas lebih kurang 7.000 m2, terkenal dengan nama Situ Ereng, merupakan salah satu asset desa yang terletak di Dusun Antralina, yang merupakan potensi besar untuk ditata menjadi sebuah kawasan objek wisata alam.
Desa Sumberjaya ini sekarang banyak di kunjungi, dengan adanya sirkuit motor trail. dan sering di jadikan perkemahan baik LT 2 maupun yang lain nya.
Desa ini mempunyai fasilitas GOR,Lapang Bola,Lapang Volly,dan banyak lain nya dalam mempenuhi masyarakatnya.